Saat itu seluruh anak kelas Olimpiade sedang menatap papan notifikasi sambil terdiam tanpa kata…

“Berdasarkan Forum…

…Siswa diwajibkan memakai sepatu hitam setiap hari…

…Sepatu olahraga diwajibkan berwarna hitam…

…Regulasi yang baru adalah pelanggaran lima kali kemudian dikeluarkan…

Aturan ini berlaku mulai tahun ajaran 2009/2010.”

What the fish??

Kemudian hiruk pikuk terjadi,

“Sepatu item??”

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Dari temenku Tika yang anak MPK, aku dapet cerita. Dia marah-marah waktu dateng ke sekolahan. Aku baca notulennya. Dari buku catatannya yang ditulisi dengan tergesa-gesa itu, aku nagkep kalo ceritanya gini.

Pak Soleh, wakasek SMA N 3 Semarang memberitahukan kepada anak-anak MPK SMA N 3 Semarang untuk mengadakan Forum yang akan membahas Tata Tertib sekolah kita tercinta, “untuk tata tertib yang lebih baik,”

Ketika sampai di sepatu, semua langsung ribut menunjukkan ketidaksetujuan selama kurang lebih empat jam. Banyak sekali alasan yang diajukan PK yang hadir di sana dan masih banyak lagi. Namun Pak Soleh memaksa sekali dengan berbagai alasan yang lebih kuat. Karena PK yang hadir sangat sedikit, siswa kalah suara. Pak Soleh pada akhirnya “memohon dengan sangat” agar peraturan sepatu hitam itu dilaksanakan.

Hadoeh, buat apa forum Pak? Ini bukan forum namanya, tapi pengumuman tata tertib baru! Aspirasi anak-anak itu nggak didenger sama sekali!

Apa kalau sepatu udah sama semua, pelanggaran lain yang lebih berat nggak terjadi?

Sekolah Bertaraf Internasional kok sepatu hitam semua. Mana internasionalnya? Kapan anak-anak dikasih waktu untuk bebas berekspresi? Seragam udah sama semua, mbok ya dikasih kebebasan di sepatunya. Kita bukan komunis yang harus sama semua Pak! SMA N 3 Semarang itu sekolah, bukan barak tentara! Kelas XI cuma dapet satu hari bebas n kelas X malah gak dapet sama sekali itu udah cukup buruk. Jangan-jangan tahun depan yang bakalan masuk SMA N 3 Semarang jadi dikit gara-gara peraturan baru ini.

Satu-satunya yang nggak diprotes cuma regulasi lima kali itu. Jadi siswa baru dikeluarkan dari SMA N 3 Semarang setelah melakukan pelanggaran sebanyak lima kali…

Bukannya harusnya sepatu yang dibebasin baru regulasinya yang dipersempit ya biar diturutin bener-bener peraturannya??

Huh…

Kayaknya Pak Soleh waktu SMA gak pernah ngrasain pake sepatu item deh…

Mungkin waktu ultahnya mesti dikasih sepatu putih apa ya???

Comments 3 Comments »

Kenapa?

Karena 2 hari itu isinya ulangan…. mulu!

Kisah tentang tiga anak Olimpiade yang sekelas dan mengerjakan susulan bersama-sama dengan penuh perjuangan sampai titik receh terakhir…

Gara-gara Sindhu (Fisika) n Kevin (Matematika) dapet medali, mereka Selasa nggak ikut ulangan Sejarah dan susulan PKn yang sudah dijadwalkan. Alhasil mereka nyusul keesokan harinya, hari Rabu tanggal 26.

Jam ke 1 dan 2, ulangan bahasa Indonesia. Soalnya dari LKS masing-masing, potensi tinggi untuk buka buku…tapi bahasa Indonesia tuh buka buku juga gak ketemu jawabannya, so?

Jam ke 3 dan 4, Biologi. Aku langsung susulan, Pak Imdad mintanya ulangan lisan (taulah apa yang terjadi pada Sindhu dan Kevin, mereka tidak berniat susulan hari itu). Habis istirahat pertama susulan Fisika… (di ruang sidang sepi, untung ada Sindhu, jadinya isinya nyontek mulu :P Kevin tapi kagak ada, nyolot)

Jam ke 5, bahasa Inggris, susulan. Miss Tika rada ngambek gara-gara kita telat masuk pelajarannya gara-gara ngerjain susulan Fisika. Kevin yang tadi gak ada waktu susulan Fisika ternyata habis susulan bahasa Inggris. Aku n Sindhu susulan bahasa Inggris agak telat n Kevin ngerjain susulan Fisika yang soalnya kita bawakan. Pulang skul dia ngerjain dengan bantuan kita-kita, hehehe…

Pulang skul, rencananya mau susulan bahasa jawa, tapi ternyata Pak Diannya lupa, ampun dah…

Tanggal 27nya..

Bahasa Jawa ulangan mandiri materinya geguritan sama macapat. Habis itu seni rupa nyelesein tugas ornamen. Waktu istirahat pada susulan bahasa Jawa (Sindhu sama Kevin nyolot, mereka ngerjain uraiannya doank teruz pilihan gandanya 45 nomer ngliat punyaku semua). Habis itu, eh, di kelas lagi ulangan Mat, materinya lingkaran… gila, kapan gurunya ngomong hari ini ulangan? Pak Kamto nyolot benjiiittt….. Sepuluh nomer, baru selese 6, itu aja gak tau bener apa kagak, eh, waktunya udah habis…

Untung saja ada kevin, penyelamat kita, anak kesayangannya Pak Kamto, minta tambahan waktu gara-gara tadi telat masuk habis susulan… Pertamanya gak diberi, “Udahlah, besok remidi,” (nyolootttt!!!) tapi akhirnya setelah kevin memberikan muka manisnya bekas medali perunggu, Pak Kamto akhirnya ngasih waktu tambahan, tapi ngerjainnya di ruang sidang. Ngerjain di Ruang Sidang pun gak masalah selama bersama Kevin, hehe…

Ternyata Kevin udah ampek nomer 9!

Nyolot maning…

Nomer 10nya yang paling susah (gara-gara gak belajar blas)…

Tapi kevin mengizinkan kami melihat lembar jawabnya, Kevin memang anak yang baik! hehe… (tapi nyolot banget dia, selama kita ngerjain, dia malah mondar-mandir ke koperasi [yang emang kebetulan deket situ] jajan minum).

Allah tidak akan memberikan cobaan bagi hambanya yang tak mampu!

Pulang skul, rencananya mau susulan bahasa Jepang, tapi Kiki Senseinya udah nggak ada. padahal kemaren udah janji!

Besok rencananya susulan TIK ma remidi Fisika…

(Kevin udah berangkat duluan untuk persiapan ke Jepang Kamis malamnya. Terima kasih karena mau berjuang bersama kami selama ini Kevin…)

Comments 2 Comments »

Aku sudah menyusul tiga pelajaran sejak pulang pelatnas kemaren dalam hal UTS (padahal masih ada tugas-tugas)…

Penjaskes hari Jumat tanggal 21 November kemaren, Kimia hari Sabtunya dan Biologi hari ini (Huah, aku malah ditanyain materi pelatnas sama Pak Imdad. Sindhu lebih parah lagi, waktu susulan yang berupa ulangan lisan waktu itu ditanyainnya malah, “Kamu tahunya apa tentang sel?” Hwakakak… malah bingung dia gak bisa ngomong…)

Selanjutnya :

Selasa, 25 November 2008 (katanya ada panggilan gubernur yang masih nggak jelas undangan resminya. Aku curiga jangan-jangan sebenernya anak OSN Jateng 2008 gak diundang, jadi susulan UTS bahasa Inggris yang asalnya mau aku lakuin hari itu aku pindah hari Rabu. Padahal hari Selasa ini ada ulangan Sejarah)

Rabu, 26 November 2008 (susulan UTS bahasa Jawa, susulan UTS Fisika, n susulan UTS bahasa Inggris kalo nggak bisa hari Selasa)

Kamis, 27 November 2008 (susulan UTS Bahasa Jepang)

Jumat, 28 November 2008 (harusnya persiapan ke Jepang nieh, tapi terpaksa merencanakan susulan! PKn, TIK belum ada nilai UTSnya!)

29 November 2008-18 Desember 2008 (lagi programnya YBA n JENESYS, plus mumet mikirin belum bikin Karya Tulis Bahasa Indonesia n remidi Mat-Fis… padahal pulang dari Jepang udah libur n selama di Jepang semesteran. Terpaksa rapot semester 1 belum keluar karena mungkin baru semesteran semester ganjil waktu masuk semester genap, hwahahaha…)

-getting nuts-

Belum mikirin gimana caranya ngerjain tugas TOBI yang pastinya makin minggu makin tidak manusiawi di antara semua acara itu!

Mana laptopQ yang banyak datanya nggak bisa diboyong ke Jepang gara2 OS n program2nya bajakan semua :D
Eksternal harddisk mahal n yang lagi dipunyai dibawa Ibu…

Harus bawa flashdisk berapa banyak nieh buat ngrekam memori di sana?

Ibuku ma nenekku udah rewel mulu nieh…

Terancam nggak bisa ke Bali tanggal 20-24 Desember nanti, hiks…

Comments 2 Comments »

Sejak semuanya sudah mengenal satu sama lain, biar Qulangi kesanQ terhadap bocah-bocah pelatnas.

Tahap pertama perjalanan ke bandung, aku naek pesawat, Sriwijaya. Sekitar jam 8 pagi aku sampai Soekarno-Hatta, omQ njemput bareng tanteQ, semuanya lancar, aku beliau mengantarkanku ke Bandung dengan mobil. Bawaanku saat itu hanya dua buah ransel, yang satu isinya baju, yang satu isinya laptop dan buku-buku.

Sampai di Bandung, ketemulah Wisma Kartini tempat aku akan menghabiskan 3 minggu hidupku di sana. Masih sepi, baru ada anak Astro. Kamarnya juga belum dirapikan. Akhirnya omku mengajakku makan. Karena omku belum pernah ke Bandung, dari tempat kami makan yang dipilih secara acak kembali ke Wisma Kartini, kami harus nyasar dulu sekitar sejam. Lihat sisi baiknya, begitu sudah sampai wisma, anaknya sudah banyak. Tapi tetep masih banyak anak Astro sih…

Waktu aku lagi ngisi formulir, aku mendengar suara ngapak yang khas…eh, Cilaboy. Dia bilang juga Mas Halwan sudah datang, tapi tidak tahu di mana. Danang juga. Waktu itu Mas Zain bilang ke aku, kayaknya nggak bakal ikut pelatnas. Yah, hilang satu anak Jateng.

Waktu Iris Qtanyai dia sampai mana, dia njawab, tapi waktu Qtanyai Mas Zain ikut atau nggak, dia nggak njawab. Wah, ada feeling lucu…

Akhirnya aku didomisilikan di Sinta 3. Kamarnya luas, alhamdulillah. Di situ ada 7 kasur selang-seling di atas dan di bawah, dua lemari lengkap dengan kunci, dua kursi lipat, dua sekat untuk pintu menuju taman depan dan taman belakang, satu cermin besar, satu meja aksesoris besar, dan satu kamar mandi lengkap dengan bak mandi raksasa dan kloset besar nyolot yang ternyata rusak juga satu buah ember hitam. Di belakang ternyata ada jmuran handuk dan sapu. Lengkap sudah hidupku.

Aku menjagakan kamar itu untuk Iris, berarti dari tujuh kasur sudah terisi dua. kemudian datang anak dari Pontianak…lho, itu kan Mbak Rena yang dapet emas kemaren! Disusul anak dari Sulawesi Selatan, Astronomi, Mbak Vivin. Terus ada anak Astronomi dari Riau, Mbak Sarah. Iris datang siangnya…bersama Mas Zain!! Wakk penipu!! Bencong bermuka serigala!! Sontak Qkejar Pala dengan sandal di tangan. Katanya nggak bisa ikut pelatnas?! Hati perempuan mana yang tidak sakit ditipu selama dua minggu?? (nah, mulai lebaynya..)

Nah, kasur di kamarQ sudah terisi lima orang. Ada dua kasur kosong. Yah, hari pertama, mukanya masih pada malu-malu n culun gitu. Tapi aku sudah kenal sama Michelle dan Dewi Persik…maksudQ Yun! Hehe… Nggak nyangka untuk seterusnya bakal akrab sama anak yang disebut terakhir tadi. Mbak Rena datang2 langsung belajar, luar biasa. Aku sampai gemeteran. Sebelumnya Mbak Rena sempat bikin roaming gitu bicara bahasa Tionghoa…

Sorenya, setelah nggosip dengan Iris sedikit nostalgia masa2 OSN, Mas Zain bilang yang Anugerah Erlaut sudah dateng. Oh, anak yang waktu dia kelas XI nyolot dapet emas Best Theory n kemaren baru menang Perak IBO? kayak gimana ya orangnya…?

Langsung deh Q mandi n ganti baju, siap-siap ketemu si idol, hwehe…

Pertama aku keluar kamar lewat depan, mau nyariin Mas Zain yang dua menit yang lalu kedengeran ketawa ngikik gak jelas gitu. Tiba-tiba ketemu Mbak Nilam, Astro Jateng. Hwa, ambil titipanku dunz, baju yang sempat ketinggalan di tempat Mbak Freh waktu di Makassar dia nggak punya baju lengan panjang.

Waktu di kamar Mbak Nilam, tiba-tiba denger Pala teriak dari taman belakang, “Ga, ada yang nyariin!”

Wah, Q langsung keluar.

“Iga kan?”

Pertanyaan itu berasal dari sesosok tinggi laki-laki yang…hwey, gundul, hwakakak…

Jadi ini orangnya…

Kak Agi.

Tebakanku, nieh anak bakal kalem benjit. Untuk seterusnya, kayaknya bakal bener.

Malemnya, ada pembukaan…

Waktu itu ada Kak Risma (pertama kali denger namanya kupikir namanya Karisma), Kak Mas’ud (yang ini mah udah kenal. Pengajar yang kalo aku boleh bilang, mandan nyolot), n bos besarnya, Pak ADP (Adenosin DiPhosphate,,,eh, Pak Agus Dana Permana).

Kami langsung diberitahu “aturan main” selama pelatnas. Waktu itu aku mengamati anak-anak yang datang ke ruangan (Anak Astro sempat keliru masuk). Wah, cowoknya banyak, tapi kayaknya culun semua. nggak seru nieh kayaknya…

Setelah itu Pak Agus mengadakan pemilihan penanggung jawab. Katanya si, harus cewek. Nggak tahu kenapa, pada milih aku, Michelle kedua. Gara-gara Mas Zain! Sentimen benjit…

Habis itu, Kak Agi langsung membombardir HPQ dengan nomer-nomer pengajar pelatnas Biologi yang dia punya. Sebagian besar aku nggak kenal. Lebih tepatnya, semuanya lah.

Setelah masuk kamar, aku nyempetin nggosip bentar ma Iris, terus tidur.

Hari pertama, selesai!

Comments 3 Comments »

Siapa sih yang nggak seneng dapet kesempatan pergi ke luar negeri walau hanya seminggu? Ketinggalan pelajaran? Whatever lah…

Yah, untuk ke luar negeri itu harus ada paspor. Dan untuk bikin paspor itu harus ada macem-macem persyaratan. Fotokopi KK, fotokopi akte kelahiran, fotokopi KTP ayah dan ibu, fotokopi surat nikah ortu (ada-ada aja), sama surat keterangan domisili kelurahan.

KK, check

Akte kelahiran, check

KTP, check

check.

Surat Keterangan Domisili Kelurahan?

Segeralah aku bertanya kepada tetangga depan rumah, Bude Muji. Gimana caranya bikin surat keterangan domisili kelurahan? O, minta surat keterangan RT dulu ke Pak Rahardjo. (beliau yang terakhir disebut ini rumahnya 200 meter dari rumahku. Enak waktu ketua RTnya masih Pakde Johar! Beliau rumahnya jauhnya cuma sebalangan sandal dari rumahku! Sekretaris RTnya juga, Pakde Muji) Jadi aku ke rumah Pak Rahardjo.

Sampe di sana, “Bawa Kartu Keluarga, mbak?” Goblok, lupa.

Akhirnya Q mbalik lagi ke rumah, ambil fotokopi KK, terus balik ke rumah Pak Rahardjo.

“Tunggu sekretaris RT pulang dulu ya Dek,”

OK…

Akhirnya dapet…

“Jangan lupa minta tanda tangan ketua RWnya!”

“O ya, Pak Fauroni. Beliau rumahnya di mana ya?”

“Di sana,”

Ceterr…!!

Bapak itu menunjuk rumah yang jauhnya sebenarnya cuma beberapa meter dari rumahnya, tapi tanjakannya tuh lho… 45 derajat!! Luar biasa. Untung Pak RWnya ada di rumah.

“Surat Keterangan Domisilinya ngambil di kantor kelurahan Sukorejo ya,”

“Di mana ya Pak?”

“Dari Masjid Nurul Ilmi, belokan kanan, ikuti aja jalan aspalnya,”

Waw, kayaknya ini bakal jadi perjalanan yang panjang…

Q akhirnya balik ke rumah bentar, ambil nafas n ganti baju (tadi itu aku masih pake seragam OSIS). Aku ambil sepeda dari garasi lalu mengikuti petunjuk Pak RT, Bu RT dan Pak RW : ikuti jalan aspal.

Sepeda Qkayuh masih biasa, sedikit nanjak, nggak masalah. Di pertigaan ada plang : “Kelurahan Sukorejo” dengan panah menunjuk ke kiri, Maju terus…lalu…

Ceterr!!

Tanjakan lagi, 45 derajat, kali ini mbelok dengan mulusnya ke arah kuburan. Sepeda terpaksa Qtuntun; aku nggak mau membunuh diriQ sendiri. Sampai di puncak, akhirnya ada jalan turun. Habis itu tanjakan2 mini yang lumayan berat pake sepeda sepanjang 200 meter.

Udah nggak keitung berapa banyak tanjakan yang Qlalui. Tapi liat sisi baiknya, aku akhirnya tahu sekarang di mana hilir dari sungai yang lewat di bawah Jembatan Besi legendaris Sampangan.

Kantor Kelurahan ada di belakang SD negeri, persis di atas satu lagi tanjakan 45 derajat. Luar biasa. Ayo Iga, semangat!! Sampai di depan pintu, mukaku merah, terasa sekali pembuluh darah berdenyut-denyut di sekujur wajahku (saat tubuh butuh oksigen tinggi, volume darah yang dipompakan bertambah sehingga aliran darah melewati pembuluh darahmu bisa terasa sekali).

Ibu yang ada di sana langsung membuatkan keperluanku (tak lupa kusodori dia wajah memelas yang ampuh). Akhirnya, surat keterangan domisili…

Eits, tunggu sebentar…

Ada tanda tanganku di situ, OK. Tanda tangan Pak Carik (Lurah), OK. Ada satu tempat tanda tangan kosong: Camat. Waduh…

“Adik, ini nanti harap ditandatangani Camat GunungPati ya.”

“Maaf…kantornya di mana?”

“Lho, asli mana to Dik?”

“Emm…sini sih, tapi saya jarang ada perlu sampai ke Kecamatan,” (udah tersipu benjit)

“Oh, jadi jalannya ke sini…” (bapak itu langsung menggambarkan peta satu HVS penuh, tapi intinya aku tahu aku harus mulai darimana)

Perjalanan kembali ke rumah sama beratnya tapi lebih cepat karena aku sudah tahu jalannya. PP sekitar lebih dari 1km. Luar biasa.

Aku istirahat dulu satu jam, sampai jam 12, mengumpulkan ATP yang sudah tercecer ke mana-mana nggak karuan. Setelah makan siang, aku berangkat lagi.

Kali ini, untuk sampai ke Kantor Kecamatan, aku bertanya pada bapak aneh yang baik hati yang kebetulan aku temui di jalan memakai seragam PNS (gara2 seragamnya, aku tanyai, kemungkinan besar dia tahu). Katanya aku harus naik Bis Terboyo-UNNES-Sekaran. Bisnya bakal lewat persis di depan Kantor Kecamatan. OK deh. Alhamdulillah, setelah bapak itu selesai ngomong, bis yang dimaksud datang.

Kernetnya langsung meminta uangku. Aku kasih Rp2000,00.

“Mbak, kurang 500,”

Ha?

Waduh,

Yang benar saja, perjalanan ke Kantor Kecamatan ternyata jauh benjit!! Beberapa meter lagi aku sudah meninggalkan Kotamadya Semarang. Aku baru sadar aku tinggal di region yang benar-benar pinggiran. Tapi alhamdulillah Q sampai di Kantor Kecamatan. Tanda tangan Camat didapat, alhamdulillah.

Tapi…

Pulangnya gimana…?

Lima menit aku tunggu, tidak ada angkot maupun bis yang lewat! Tapi ada mobil2 angkutan umum misterius tanpa stiker jurusan yang biasanya nempel di angkutan umum. Aku tidak mau buang-buang waktu, jadi aku jalan saja dari kantor kecamatan sampai ketemu angkot atau bis lewat…

Sayangnya, saking enaknya ngrasain naik bis setelah ngayuh sepeda naik turun ke Kantor Kelurahan, aku nggak nyadar kalo jalan ke Kantor Kecamatan penuh dengan tanjakan dan kelokan! Mana di sana-sini nggak ada yang jualan es jeruk lagi, adanya jus duren!! Luar biasa!

Aku terpaksa jalan terus, karena jalanan sepi angkutan umum. Aku sudah jalan kira-kira 500 meter (sebuah prestasi!) tau-tau…wusss!!! Ada bis nglewati aku, nggak nawarin naik atau apa…

Nyolot benjit!!

Yah, aku ngerti itu di tanjakan, jadi agak sulit buat bis untuk berhenti, tapi please, ya Allah, apa dosaku?

Aku pun jalan lagi. Rasanya betisku sudah bertambah besar. Untung ranselku sudah kukurangi muatannya di rumah sebelum berangkat. Kali ini tiap beberapa menit sekali aku menoleh ke balakang, memperhatikan kalau-kalau ada bis lewat.

Setelah menit-menit yang melelahkan, akhirnya ada Bis…

Allahu akbar!

Sontak aku loncat ke dalam bis itu. Duduk, dalam perjalanan nyaris tertidur.

Dan sampailah aku di rumah, tidak kurang suatu apa dengan Surat Keterangan Domisili Kelurahan di tangan.

Fiuhh…

Comments 3 Comments »